Surat Kabar Mahasiswa Balance

December 27, 2007

Tolong Aku….

Filed under: Cerpen — Shinta Revinda @ 10:14 am

kekerasan anak Tolong Aku....Pagi yang cerah, namun aku sudah harus dihadapkan pda aroma sampah yang mengaduk-aduk isi perutku. Yang sebenarnya, belum terisi oleh sebiji nasi pun. Aku harus berebut dengan anak seusiaku diantara gunungan sampah. Memilah-milah mana yang sekiranya masih bisa dijual untuk didaur ulang. Padahal anak seumurku, seharusnya masih duduk di bangku sekolah menengah. Setiap kali aku melihat anak-anak berseragam SMU lewat diseberang jalan
sana. Hatiku tersayat perih tatkala mereka memandangku jijik. Akupun berpaling, menghapus luka yang membuat mataku memerah panas.

Belum tengah hari, saat aku mengendap-endap pulang ke rumah. Sementara di tanganku tergenggam sebungkus nasi untuk adikku semata wayang. Sedangkan bagianku sudah sedari tadi kumakan, dengan poorsi yang sama. Perlahan aku mengintip dari balik dinding bambu reyot yang berlubang disana-sini. Aman. Ibuku tidak ada di rumah. Kemudian aku menyelinap masuk dan mendapatkan adikku duduk di atas dipan kayu. Lelaki kecil itu menyambutku dengan mata bulat penuh harap. “Ardi, Nih, kakak bawakan nasi buat kamu. Kamu udah lapar
kan? Nah, cepetan gih dimakan”. “Kak Ririn nggak ikut makan?” “Kakak udah makan kok!”, kataku sambil memandangnya yang sedang makan dengan lahap. Aku menatap ke sekeliling.

Ada dipan kayu tanpa kasur, diletakkan di sudut ruangan, yang hanya beralaskan karton yang disusun sedemikian rupa. Antara dipan itu dengan ruangan tengah hanya dibatasi dengan sebuah almari kecil berisi pakaian kami yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ruang tengah yang kukatakan tadi, berisi sebuah meja dengan tiga kursi yang sedang aku dan adikku duduki. Ruang ini berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang makan. Disebelah kanannya terdapat rak pring tua. Yach, tinggal inilah barang kami yang tersisa. Lalu, di samping rumah kami terdapat bilik kecil, yang dipakai untuk mandi. kulihat seorang wanita muncul dari balik pintu.

Terlalu cepat reaksinya, aku tidak sempat mengelak. “Anak tolol! Apa saja kejamu sedari tadi, heh! Jam segini udah santai-santai di rumah. Kamu dapet uang berapa, kok sudah berani pulang?!”, bentak ibuku sambil menarik lenganku keras. “Ngg…aku bawakan makan buat Ardi, bu. Kasihan Ardi belum makan dari tadi”, kataku sambil menunduk dan mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangannya. “Oh..gitu ya! Cuma bawa buat adik. Buat ibu nggak? Terus kamu pikir, ibu udah makn?, kata ibu memelototiku. “Maaf Bu, habis..habis..” “Habis apa heh? Jadi kamu Cuma dapat uang hanya bisa buat beli nasi bungjkus aja. Cuma itu! Daripada nyari sampah, ibu kan sudah bilang berkali-kali. Copet aja tuh, uang orang-orang kaya yang banyak bersliweran di jaln! Cepat dan banyak!” “Tapi..” “Tapi apa! Udah sana pergi. Ambil aja itu uang orang!”’ kata ibu sambil menyeretku keluar. Aku terpaksa melangkah pergi. Namun aku sempat melihat adikku yang masih berusia 6 tahun itu ketakutan. Kasuhan Ardi. Wajahnya selalu terlihat pucat. Tubuhnya kurus, penuh luka pukulan sapu di sana-sini. Meskipun aku tak jauh beda. Ibuku dulu begitu baik. Dia berubah sejak ayahkku mencampakkan ibu, aku, dan Ardi.

Ayah menuduh ibuku menyeleweng dan melahirkan adikku. Padahal sesungguhnya cuma ingin menikahi wanita simpanannya. Aku muak! Hh…aku menghela nafas panjang, mengingat bagaiman ayah mengusir kami. Bahkan tega-teganya ayah memukuli ibu, saat ibu membela diri. Yach, ibuku yang cantik. Dibuang begitu saja oleh ayah. Ibuku tidak mau pulang ke rumah kakek dan nenek. Namun, ibuku berjuang sendiri menjadi tukang cuci piring, buruh angkut, atau apapun asal kami bisa makan. Sejujurnya kukatakan, bukan sekali dua kali aku melihat ibuku menangis sendirian pada waktu aku dan aku sudah terlelap. Namun selang waktu kemudian aku melihat ada dendam di matanya, dan ibuku lansung meneguk minuman keras di sampingnya. Kemudian kudengar ibuku mulai mencaci maki ayah. Namun, masihkah ppantas kusebut dia ayah?

Dua tahun setelah itu, kecanduan ibu akan alkohol semakin buruk, dan itu mempengaruhi perlakuannya padaku juga adikku. Bahkan ibu mulai merokok dan sering tak ada di rumah. Selam itu, aku tak perduli lagi ibu pergi ke mana. Karena kurasa kadang itu lebih baik. Sebab sejak itu, setiap pulang ke rumah ibu selalu datang bersama lelaki yang tak kukenal. Mereka minum-minum dan setiap melihat adik, ibu seolah kerasukan dan langsung memukulnya. Jika sudah seperti itu, aku mencoba melindungi adikku dalam pelukanku dan membawanya keluar. Meski sebelum itu, aku masih sempat mendengar kata-kata makian ibu yang benar-benar…. Hanya anehnya, kadang…sering juga ibu dalam keadaan mabuk duduk di samping adikku yang sedang tidur. Memandangnya, membelainya, dan berkata, “ Kau mirip sekali dengan ayahmu yang brengsek itu. Taukah kau, dulu dia begitu mencintaiku. Bahkan dia termasuk orang yang paling gigih untuk mendapatkanku. Kami bertemu secara kebetulan saat motornya menabrak becak yang sedang ibu tumpangi waktu ibu pulang dari pasar.

Saat itu ibuku jatuh di got dan ayahmu juga terjatuh disamping ibu. Kemudian kami tertawa, ketika melihat wajah kami yang belepotan”. Saat itulah aku melihat ibu meneteskan air mata. Emosi ibu yang sulit ditebak, membuatku harus berhenti sekolah. Karena uang tabungan ibu yang sedikit itu sudah habis dan uang kiriman nenek tiap bulan pun nggak cukup untuk mengimbangi pengeluaran percuma yang dilakukan ibu. “Aduh….!”,kurasakan tubuhku menabrak sesuatu sehingga menyadarkan lamunanku, “Maaf…” “Dasar gembel, kalau jalan lihat-lihat dong! Sadar nggak sih kalau tubuhmu itu bau!”, kata lelaki itu mendengus kesal. ”Maaf…maafkan aku…”, namun dia sudah pergi, samar-samar masih tedengar omelannya. Tanganku merogoh sakuku, sebuah dompet milik orang tersebut. Yang secara reflek tanganku sudah mengambil dari sakunya. Hh…aku menunduk sedih. Aku tidak suka melakukannya. Namun, sedetik kemudian kesadaranku menuntun kakiku untuk segera meninggalkan tempat itu. Sebelum orang tadi menemukan dompetnya tak lagi berada di tempat. Aku berlari menyusuri lorong-lorong selokan yang bau dan gelap. Tak sekali dua kali aku menginjak tikus yang tak dapat aku lihat.

Samar-samar ada cahaya di ujung sana. Itu artinya aku bisa keluar, aku berhenti di ujung lorong. Dengan bergegas aku membuka dompet tadi lalu mengambil uangnya. Lumayan. Cukup untuk menahan kemarahan ibu. Sedangkan dompet orang itu aku lempar begitu aja. Aku melompat turun dari lobang pembuangan, dan mendapatkan diriku berad di pinggir sungai di bawah rel kereta api. Aku memandang ke sekeliling. Gubuk-gubuk kumuh berderet tak teratur memenuhi pinggiran sungai. Dulu aku pernah tinggal disini. Tidur diantara tumpukan karton yang kami kumpulkan. Jangan tanyakan padaku apakah tempat ini pernah dibersihkan oleh petugas keamanan. Menghancurleburkan begitu saja barang-barang yang kami dapatkan dari pagi hingga malam.

Namun, tempat ini tetap saja kumuh karena memang tidak ada tempat lain buat kami tinggal. Hari sudah malam, sebelum sampai di rumah. Aku menyempatkan diri untuk makan, tak lupa juga aku beli untuk Ardi dan ibu. Dari balik dinding bambu kulihat bayangan ibu. Keningku berkerut. Nggak biasanya jam segini ibu ada di rumah. Aku ragu untuk masuk. Entah mengapa aku begitu takut. Seolah aku mencium ada yang tidak beres. Perlahan ku buka pintu, sedangkan tanganku yang satu mencengkeram erat plastik berisi nasi bungkus yang tadi kubeli. ”Nah, akhirnya kau datang juga…ibu mengira kamu nggak akan pulang”, kata ibuku penuh misteri,”Dah sana cepat mandi, lihat tubuhmu kotor begitu. Pakaianmu ada di atas dipan. Cepat ya!”. Ibuku lalu mengambil plastik di tanganku. Aku masih tak habis pikir. Kemudian aku memandang adikku seolah meminta keterangan. Namun sia-sia saja. Adikku masih terlalu kecil. Aku masih bingung, tapi aku tidak berani bertanya pada ibuku. Aku turuti kata-katanya untuk mandi. Belum habis rasa heranku, baju yang disiapkan ibuku ternyata baju baru! Gila nggak? Aku selesai mandi tepat saat sebuah mobil berhenti di depan gubukku.

Ibuku tersenyum lebar dan berbicara dengan lelaki di mobil itu. Ah, mungkin itu salah satu teman ibu, seperti biasa. Tapi, otakku yang tak bisa aku ajak berpikir, telah membuatku linglung atas apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak tau ketika pada akhirnya aku sudah berada di dalam mobil itu. Ibuku melambaikan tangannya, saat perlahan mobil melaju. Rasanya sudah lama sekali aku berada di mobil ini. Belum aku temukan tanda-tanda mobil akan berhenti. Aku mencoba melihat keluar. Namun di luar begitu gelap dan…..sepi. Tubuhku merinding. Saat tiba-tiba mobil itu berhenti. Lelaki itu menoleh kebelakang. Ke arahku. Yach, aku mersa ada yang tidak beres. Aku mencoba membuka pintu. Terkunci. Dan dia sudah pindah di sampingku. Kurasakan jemarinya menyentuh halus permukaan kulitku. Aku mencoba mengelak. Namun tangannya dengan cepat meraih lenganku. Dia tak lagi bersikap lembut padaku. Dengan paksa dia mencoba membuka kancing bajuku. Nggak!! Aku nggak ingin ini terjadi.

Tanpa pikir panjang kugigit lengannya. Lalu aku maju ke depan, meraih gagang pintu. Terbuka. Aku berlari. Dia mengejarku dan berhasil meraihku. Aku terjatuh. Apa? Apa yang harus aku lakukan? Dia terus dan terus berusaha membuka bajuku. Menciumi tubuhku dengan paksa. Brengsek!!! Tega-teganya ibu menyerahkanku pada lelaki semacam ini!! Tanganku mencoba meraih sesuatu. Hh…ada sesuatu. Aku memukulkannya di kepalanya. Dengan sisa kekuatan aku berdiri, dia ternyata masih bisa bangkit, sambil memegang kepalanya. Hh..kenapa di sini sepi sekali. Di mana aku? Aku tidak kenal tempat ini. Sudahlah. Itu pikirkan nanti. Yang jelas aku hanya bisa berlari….dan berlari…..

_Shinta Revinda_

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Sorry, the comment form is closed at this time.

Powered by WordPress