Manusia bijak

“Manusia bijak adalah manusia yang cinta dan sekaligus takut pada Tuhan. Nilai hakiki manusia tidak pernah terselip di antara warna kulitnya, agamanya, sukunya atau pun keturunannya, melainkan pada ilmu pengetahuan dan perilaku-perilakunya”.
Saya sangat tertarik dengan puisi di atas, seusai membaca, di dalam benak saya langsung terbersit sebuah pertanyaan, “Siapa yang merasa telah menjadi manusia bijak?” Pertanyaan sederhana yang mungkin belum banyak orang yang bisa menjawab, “Ya, saya sudah menjadi manusia bijak!”. Seperti lirik puisi di atas, memberi gambaran pada saya, bahwa menjadi manusia bijak itu tidak mudah. Betapa kita saat ini melupakan, bagaimana ilmu pengetahuan kita, bagaimana perilaku kita dengan ilmu pengetahuan kita. Banyak orang pintar berperilaku tak sepintar ilmunya, contoh yang baru saja terjadi, seorang profesor sebuah universitas ternama di Medan, melakukan tindak asusila terhadap seorang waitrees di sebuah restoran pada saat berkunjung di Yogyakarta. ”Opo Tumon”, istilah orang jawa, seorang yang tinggi ilmu saja berperilaku seperti itu, bagaimana kalau orang yang rendah ilmunya, perilakunya seperti apa?? Mungkin kalau saja seorang preman yang melakukan kita masih bisa maklum, lha ini profesor jee!!
Lirik puisi Kahlil Gibran tersebut mungkin bisa di jadikan cermin diri kita. Bagaimanapun, tidak ada orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai manusia bijak, hanya orang lain yang bisa menilai diri kita seperti apa. Jadilah orang bijak teman-temanku, sumpe dee ga ada ruginya..!!(tea/balance)
Filed Under: Music & Art
