Tag Cloud
Berita Terakhir

Liputan Teater Ra Dhe Jeneng

4765e20648329 Liputan Teater Ra Dhe JenengTeater Ra Dhe Jeneng (RDJ), merupakan kelompok teater anak-anak jalanan Yogyakarta. Kelompok ini dibentuk oleh kaukus untuk anak jalanan Yogyakarta sebagai sarana penguatan dan pengorganisasian kelompok. Melalui organisasi yang berbentuk grup teater ini, anak-anak jalanan dapat mengekspresikan apa yang ingin disuarakan secara positif.

Jumat, 14 Desember 2007 kemarin, teater RDJ mempersembahkan sebuah karya kedua mereka yang berjudul ”Anak apa Adik?” . Pementasan yang dimulai pukul 19.00 ini, merupakan rangkaian dari kegiatan Hari AIDS sedunia yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Propinsi DIY dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Propinsi DIY. Sebagaimana diketahui bahwa anak-anak jalanan salah satu pihak yang beresiko tinggi tertular virus HIV/AIDS.

Di ruang pertunjukan Kedai Kebun yang terletak di jalan Tirtodipuran no.3 ini, pertunjukan dipertontonkan. Dengan memiliki tiket seharga Rp 5000,00, kita bisa menikmati pementasan ini. Drama ini mengisahkan tentang sebuah kehidupan yang sederhana tetapi diliputi oleh berbagai masalah.

Tokoh utama dalam drama ini adalah Tarman dan keluarganya. Tarman yang diperankan oleh Ferry Anjasmara (20 th), merupakan tokoh suami yang tidak bertanggung jawab. Setiap hari kerjanya hanya maen judi dan mabuk-mabukan. Kenyataan ini yang membuat istrinya, Timah (diperankan Dhenok, 22 th), untuk bekerja banting tulang demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Kesehariannya, Timah hanya bekerja sebagai penjual makanan dari sekolah satu ke sekolah lainnya.

Semua derita yang dialami keluarga ini berdampak pula pada anak semata wayang mereka yang bernama Cempluk (diperankan Dian, 22 th). Yang pada akhirnya harus mengandung seorang anak yang merupakan darah daging ayahnya sendiri. Inilah yang membuat dia bertanya, ”Sebenarnya ini Anakku apa Adikku?”

Dalam pementasan ini, digambarkan situasi yang dihadapi oleh orang kebanyakan, seperti tak punya uang untuk menyambung hidup, konflik keluarga, dan berbagai permasalahan lainnya. Penyampaiannya begitu ekspresif dan serasa begitu nyata. Hal ini diperkuat dengan pengucapan dalam bahasa Jawa. Kita seakan diajak untuk lebih mengenal budaya kita lebih dalam.

Pementasan teater RDJ ini memberi banyak pesan moral dan memberi kita gambaran bagaimana situasi yang sering dihadapi oleh berbagai rumah tangga. Selain itu, dalam pementasan ini, juga diselipkan beberapa pesan tentang bahayanya virus HIV/AIDS. Sehingga melalui pementasan Teater Ra Dhe Jeneng ini, kita dapat menginformasikan dan menyuarakan hak kita dan ikut andil dalam penanggulangan HIV/AIDS di Yogyakarta. (siska)

Berita sejenis, klik disini.

Comments are closed.