KESEPIAN DITENGAH KERAMAIAN
Adalah situasi dimana individu mengalami perasaan kesepian meskipun sesungguhnya mereka dikelilingi banyak orang. Istilah lain untuk menyebut keadaan semacam ini dinamakan Living Together Lonelines (LTL). DR. Kiley dalam bukunya yang berjudul, Living Together Feeling Alone menyebutkan bahwa sekitar seperempat penduduk dunia mengalaminya. Terutamanya, situasi demikian ini dialami oleh manusia dewasa.
Pada umumnya LTL ini dilekatkan oleh orang-orang yang ditinggal pergi seseorang, hidup menjanda/duda, dan lain sebagainya yang pada intinya adalah hidup seorang diri. Namun, ternyata kedekatan secara fisik dengan orang lain tidak menjamin seseorang untuk lepas dari permasalahan LTL. Kasus yang banyak ditemui adalah pada perempuan. Sedangkan pada laki-laki tidak banyak terungkap. Kemungkinan hal tersebut dikarenakan sifat laki-laki yang introvert terhadap perasaannya. Namun demikian, tanpa melihat kepada masalah gender, memang hampir setiap orang didunia ini pernah mengalami perasaan kesepian.
Kesepian pada masa dewasa awal terjadi pada masa transisi seseorang dari sekolah menengah atas ke perguruan tinggi. Suatu penelitian yang disebutkan dalam buku Life Span Development menyebutkan bahwa 75% mahasiswa baru mengalami kesepian semenjak datang ke kampus. Meskipun mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan bersama semisal OSPEK, namun banyak diantaranya yang tidak terlibat secara emosional. Prestasi-prestasi pribadi dimasa sekolah menengah atas juga tidak dapat serta merta dapat ditunjukkan kepada setiap orang dilingkungannya yang baru tersebut. Akibatnya individu seolah harus memulai hubungan dari nol lagi. Disinilah peran keterbukaan menjadi penentu.
Keterbukaan sangat penting dalam menjalin suatu hubungan. Individu yang kesulitan membuka diri akan mengalami kesulitan menjalin hubungan dengan orang-orang baru. Akibatnya kondisi ini akan menambah perasaan kesepian mereka. Kesulitan pembukaan diri ini biasa diekspresikan melalui pernyataan seperti, “Saya merasa tidak cocok dengan orang-orang disekeliling saya”, “Saya tidak menemukan perasaan kebersamaan seperti yang pernah saya alami sebelumnya”, dan lain sebagainya.
Kesepian dimasa pernikahan juga dapat terjadi manakala salah satu pasangan misalnya tidak mendapatkan perhatian dari yang lainnya. Misalnya pada kasus perempuan yang banyak terjadi adalah ketika suami bersikap isolatif. Hal ini antara lain tercermin dalam sikap menolak. Monolak bisa dalam segala hal, misalnya menolak saat diajak ngobrol/berdiskusi, sampai menolak saat tiap kali diajak berhubungan intim. Suami yang suka menyalahkan, banyak mengkritik tanpa memberi solusi, dan memboikot pergaulan istri adalah salah satu faktor penyebabnya.
Contoh diatas merupakan penyebab kesepian dipandang dari sisi external yang secara luas menyangkut permasalahan budaya dan kemasyarakatan. Misal dengan adanya perubahan peran pada perempuan, serta mobilitas yang kian tinggi. Perempuan kini tidak hanya mengurusi permasalahan rumah saja, tetapi juga berfungsi lain untuk mencari nafkah keluarga baik bersifat tambahan ataupun penuh. Sepulang dari kerja masih dihadapkan pada masalah-masalah rumah tangga seperti menyiapkan makanan, mengurus anak, dan lain sebagainya. Sementara mobilitas yang tinggi semakin menjauhkan kita dari sentuhan-sentuhan sosial. Sebab bagaimanapun cara berkomunikasi tak langsung dengan langsung tetap berbeda.
Kemudian dari sisi internal sendiri, kesepian dapat disebabkan oleh perkembangan kepribadian dan konflik peran yang dialaminya. Misalnya dikarenakan penghargaan yang rendah terhadap dirinya sendiri, kecintaan yang berlebihan pada dirinya sendiri (narsisme), dan perasaan tidak berdaya.
Konflik peran timbul ketika seseorang mendapati adanya harapan yang baru terhadap mereka. Seperti kasus transisi ke perguruan tinggi diatas, harapan yang diinginkannya berbeda jauh dengan kenyataan. Yaitu disaat seseorang mengharapkan perlakuan yang sama seperti ketika masih di sekolah menengah atas, namun ternyata tidak didapat di perguruan tinggi. Pada kasus perempuan, seringkali disatu sisi kini dituntut untuk independen, mandiri atau tidak tergantung, yang merupakan konsekuensi dari persamaan gender. Sementara, disisi lain masih ada nilai-nilai tradisional yang menganggap tabu atas beberapa aktivitas perempuan seperti misalnya: perempuan dianggap tidak pantas bilamana pulang larut malam, perempuan hendaknya tidak menonjolkan diri melebihi suaminya, dan lain sebagainya.
Namun demikian, apapun langkah yang ditenpuh untuk mengatasinya, tiga hal utama yang menjadi prinsip adalah: kebenaran, harapan, dan cinta. Kebenaran sejati sebenarnya dapat digali dari dalam diri sendiri. Dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana yang jelas sudah teruji. Seperti menyempatkan diri untuk berkontemplasi, merenungi diri disertai dengan solusi konkrit dari hasil pemikiran yang mendalam. Kekaburan harapan yang menyebabkan pula konflik peran pada contoh diatas sejatinya berkaitan dengan bagaimana manusia memiliki kesanggupan untuk merespon lingkungannya. Selama kita dapat merespon lingkungan kita maka harapan akan selalu ada untuk kita. Yang terakhir adalah, cinta, nyawa bagi kehidupan. Cinta memberikan arti hidup yang ditemukan dengan menjaga keintiman berhubungan dengan orang lain.
Dengan kombinasi ketiga prinsip utama tersebut, secara positif mampu menghapuskan perasaan kesepian yang diderita. Kehidupan yang penuh arti, makna, nilai, harapan, dan kebenaran akan membawa ke kehidupan yang hangat, membahagiakan, dan juga menentramkan jiwa.
Buntara
Sumber:
Filed Under: Psikology
