Tag Cloud
Berita Terakhir

Archive for the ‘Headline’ Category

Konflik PAPUA makin membara

Nyaris bersaman dengan pidato Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang isinya relatif hebat itu di depan para menteri dan wakil meneteri  hasil kocok ulangnya tersebut,justeru di wilayah paling timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)para aparat keamanannya melakukan sustu keblunderan yang memalukan . Tindakan-tindakan yang sebenarnya bisa dilakukan mereka ketika prosesi pembukaannya justeru dilakukan ketika penutupan Kongres Rakyat Papua yang ke 3,padahal dua hari sebelumnya mereka abaikan sambil dengan saksama menyaksikan acara pembukaannya ,meskipun dalam acara itu turut juga di kibarkan bendera bintang kejora dan bendera Zionis Israel.

Tindakan tegas aparat keamanan terhadap Kongres Rakyat papua yang ke 3 itu yang menyebabkan kembali merenggut korban jiwa,serta menangkapi sekitar 200 orang peserta kongres yang dihadiri paling tidak sekitar 2000 orang  tersebut tentu saja akan segera mengundang kecaman masyarakat internasional yang sedang bersiap-siap merayakan Hut ke 66 PBB  itu.

Padahal Kongres Rakyat Papua yang diadakan sejak Senin (17 Oktober 2011) yang dibuka dengan acara-acara yang salah satunya mengibarkan bendera bintang kejora dan bendera Zionis Israel itu sudah jelas kemana arah dan tujuanya ,namun aparat keamanan terkesan membiarkannya saja ataupun memang mereka sengaja melakukannya supaya pesan-pesan KOngres Rakyat papua yang belakangan diangganya “Makar” tersebut bisa tersosialisasinya dulu dan di ekspos oleh media nasional dan internasiona  baru para penggagasnya ditangkap   .

Sekiranyapun bendera bintang kejora itu ada yang menganggapnya sebagai budaya tradisi rakyat Papua hingga di biarkannya saja dikibarkan dalam acara pembukaan Kongres Rakyat Papua yang ke 3 ,lalu bagaimana dengan bendera Zionis Israel yang merupakan sebuah negara yang tidak diakui oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia ?  Hal itu juga dilakukannya pada sat-saat SBY di Jakarta sedang mewanti-wanti kabinetnya  yang sudah didramatisasikan berminggu-minggu lamanya itu.

Sekiranya aparat keamanan tersebut mengambil tindakan ketika awal pembukaan Kongres rakyat papua yang ke 3 itu tentu saja hal-hal  tersebut bisa dihindari,ataupun para komandan di lapangan belum ada petunjuk dari atasan mereka hingga membiarkan acara tersebut berlangsung.Ketika hari terakhir Kongres Rakyat Papua ke 3 yang diakan di lapangan Zakeus,komplek kampus Sekolah Tinggi Teologi Tunas Harapan(STTTH)yang dihadiri sekitar 2000 peserta iru baru  dianggap makar karena sudah mengantongi perintah , sehingga dengan tergesa-gesa mengambil tindakan represif yang kembali merenggut korban jiwa .

Kecamanpun mulai berdatangan dari para simpatisan organisasi Papua Merdeka dari luar negeri ,seperti yang diungkapkan oleh Amatius Dauw,Jubir Forum Internasional Papua (Melbourne,Australia) ,serta statement Ketua Dewan Adat papua,Forcorus Yaboisembut bahwa  Kongres Rakyat papua itu merupakan upaya-upaya rakyat Papua dalam menuntut hak-haknya sebagai manusia.

Kerusuhan tersebut semakin menambah penderitaan warga Papua ,bahkan lebih tragis lagi kerusuhan tersebut terjadi seiring pemogokan ribuan karyawan Freeport   yang belum diketahui kapan akan berakhir itu .Mereka masih memblokir akses jalur ke Freeport,yang sempat juga menelan korban jiwa dari kerusuhan itu disusul dengan serangkaian pemenbakan terhadap karyawan  Freeport  yang juga menelan korban jiwa . Kerusuhan-kerusuhan itu telah menambha deretan korban dari kerusuhan sebelumnya di Nafri,Koja-Adipura dan juga Puncak jaya .

Konflik sosial di Papua sebelumnya juga sudah mengundang dukungan dari para simpatisan OPM di luar negeri,yang mengadakan seminar di Universitas Oxford ,London,Inggris  yang diselenggrakan oleh suatu badan advokasi internasional Papua Barat(International Lowers  of West Papua)yang memseminarkan mengenai masalah-masalah Papua.Dan karena kerusuhan ini juga akan mengundang kecaman serupa kepada Indonesia,seiring semakin bertambahnya dukungan dan simpatisan kepada gerakan separatis di papua ,OPM  tersebut.

Berdasarkan berbagai kecolongan atau pembiaran itu  terdapat indikasi bahwa sebenarnya ditubuh aparat keamananaya sendiri sedikit banyak terdapat oknom-oknum yang pro separatisme ,sehingga dengan sengaja memanipulasi data-data intelejen untuk memperlambat dan menghambat kordinasi dalam jajaran hirarchi pemerintahan,khususnya dalam jajaran yang berkaitan dengan keamanan dan pertahanan.

Keberadaan bendera zionis Israel  dalam acara pembukaan Kongres Rakyat Papua ke 3 itu bisa saja dianggap sesuatu kebetulan sifatnya,namun hal itu merupakan suatu isyarat dari sel-sel separatis OPM untuk mencari simpati dukungan dari Israel ,yang tentu saja agen-agen rahasia Mossad atau CIA  dalam kaitannya  sebagai reaksi  keras terhadap intruksi SBY    untuk meninjau ulang berbagai kontrak kerja dengan pertambangan  – pertambangan asing yang sudah puluhan tahun menguras sumber daya alam Indonesia   ,dan tentunya Paman Sam -Ben Gureon sebagai pemilik Freeport  di Papua yang sejak April tahun 1967   sampai sekarang masih enggan bernegoisasi ulang dengan Indonesia.

Meskipun keberadaan  Freeport yang beberapa kali diperpanjang kontrak kerjanya dengan rejim Orde baru yang sangat merugikan posisi Indonesia,serta warga Papua  selain hanya merusak lingkungan alamnya yang semakin parah tersebut.Isyarat secara  implisit tersebut sudah cukup bagi Paman Sam untuk mengingatkan Indonesia supaya tidak melakukan kaji ulang kontrok kerja dengan Freeport,sebagai imbalannya Washington tidak akan mengekspos masalah pelanggaran Ham yang terjadi dalam berbagai konflik di Papua .

Dalam konteks ini,maka pemerintah Indonesia perlu segera mengentaskan masalah-masalah di Papua tersebut.Langkah-langkah tersebut perlu ditempuh secara terpadu meliputi beberapa kementerian  ,seperti  Kemenlu,Mendagri,Menkertran,Menkumham,Menhan-BIN dan yang terkait lainnya untuk secara persuasif mengentaskan masalah tersebut.Mampukah kabinet hasil kocok ulang itu bekerja keras hingga bisa mengentaskan kompflik-komflik sosial di Papua itu.Kita tunggu saja.

 

 

Sumber:kompasiana.com

SBY Gelar Rapat Terbatas Mendadak Terkait Bom Solo

Jakarta – Rapat terbatas mendadak digelar Presiden SBY. Rapat terkait ledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo.

Pantauan detikcom di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (25/9/2011), rapat diikuti Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto dan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Mabes Polri Komjen Imam Sudharwo. Wapres Boediono juga menyusul hadir ke rapat. Rapat berlangsung sejak pukul 16.00 WIB.

Rencananya, usai rapat terbatas, Presiden SBY akan menyampaikan keterangan kepada pers.

Menurut Jubir Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, melalui telepon, Presiden SBY mengutuk keras aksi teror yang sengaja dilakukan terhadap umat yang sedang beribadah. Apa pun motif dan alasan pelaku, tidak ada yang bisa dibenarkan dari sebuah tindak kekerasan dalam bentuk dan atas nama apa pun juga.

Lebih lanjut dikatakannya, Presiden SBY juga menyampaikan keprihatinannya terhadap korban-korban tidak berdosa yang kini menjalani perawatan di rumah sakit.

“Dipastikan negara akan menindak tegas dan menghukum siapa pun yang terkait dan bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” tegas Julian.

 

www.detiknews.com

Toshiba Siapkan Notebook 3D Bebas Kacamata

Jakarta – Melihat tampilan tiga dimensi (3D) kadang sering direpotkan dengan kacamata. Beruntung, kini sudah ada teknologi yang bisa membebaskan pengguna dari kacamata kala menikmati sajian gambar yang lebih hidup tersebut.

Hal inilah yang tengah dikembangkan Toshiba. Perusahaan asal Jepang itu dilaporkan tengah mempersiapkan notebook 3D yang bisa dinikmati tanpa kacamata khusus.

Dikutip detikINET dari Tg Daily, Kamis (7/4/2011), perangkat 3D bebas kacamata sejatinya sudah mulai tumbuh belakangan ini. Vendor konsol game Nintendo pun sudah mulai menggoda pasar dengan produk barunya, Nintendo 3DS.

Selain itu ada juga deretan produk lainnya semisal frame foto digital 3D, display kamera preview 3D, dan akan juga diikuti dengan smartphone dan tablet PC.

Toshiba sendiri sejatinya sudah memiliki notebook 3D dan menjajal peruntungannya di pasar dengan produk tersebut. Sayang, nasib baik kurang menaungi Toshiba kala itu, dengan hasil akhir yang kurang sukses.

Namun sepertinya dengan persiapan notebook 3D tanpa kacamata yang digadang-gadang akan diperkenalkan pada tahun 2011 ini, Toshiba masih belum patah arang untuk menaklukkan pasar.


( ash / fyk )

www.detik.com

8.721 Siswa di Pekalongan Akan Ikuti UN

03 Februari 2011 | 23:25 wib

Pekalongan, CyberNews. Jumlah peserta sementara yang akan mengikuti Ujian Nasional (UN) pada April mendatang sebanyak 8.721 siswa. Peserta UN tersebut terdiri atas 1.955 siswa jenjang pendidikan SMA/ MA/ SMALB, 2046 siswa SMK dan 4.720 siswa jenjang pendidikan SMP/ MTs/ SMPLB.

Jumlah ini berdasarkan verifikasi daftar nominasi sementara (DNS) peserta UN tingkat SMA dan SMP Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (dindikpora) Kota Pekalongan. Verifikasi DNS itu akan diperiksa kembali sebelum ditetapkan sebagai daftar nominasi tetap (DNT) peserta UN tahun ini.

“Verifikasi daftar nominasi sementara yang kami terima dari sekolah-sekolah pada 20 Januari lalu, kami kirim ke provinsi untuk diverifikasi dan ditetapkan sebagai daftar dominasi tetap,” terang  Kabid SMP, SMA, kejuruan dan sederajat Dindikpora Kota Pekalongan Kadaryanto, Rabu (3/2).

Diperkirakan, minggu kedua Februari, daftar nominasi tetap sudah diumumkan ke sekolah-sekolah. Sebanyak 1.955 siswa SMA/MA/SMALB itu akan mengikuti UN pada 18 April hingga 21 April mendatang. Sementara, siswa SMK akan melaksanakan UN pada 18 hingga 20 April.

Menurut Kadaryanto, bagi siswa yang tidak mengikuti ujian utama karena sakit atau hal lain yang tidak bisa dihindarkan bisa mengikuti ujian susulan. “Untuk tingkat SMA/ MA/ SMALB, ujian susulan akan diselenggarakan pada 25 hingga 28 April. Dan, ujian susulan untuk SMK akan diselenggarakan pada 25 hingga 27 April,” paparnya.

Untuk UN SMP/MTs/ SMPLB akan diselenggarakan pada 25 hingga 28 April. Sedangkan ujian susulan akan dilaksanakan pada 3 hingga 6 Mei. .

( Isnawati / CN26 / JBSM )

sumber: www.suaramerdeka.com

Warga Pabelan Cemaskan Anak di Mesir

03 Februari 2011 | 23:59 wib

image

Ungaran, CyberNews. Konflik berkepanjangan yang terjadi di Mesir juga membuat masyarakat Indonesia merasa cemas. Sebab, banyak mahasiswa ataupun TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bekerja di negara tersebut. Salah seorang yang merasa khawatir dengan gejolak di Mesir itu adalah Drs H Muhammad Hamdan (55) warga Desa Padaan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Kekhawatiran suami Ny Hj Muslika ini terjadi lantaran anaknya, Muhammad Farid Wajdi (23) yang menjalani studi di Universitas Al Asyhar Kairo, Mesir kini belum kembali ke tanah air. Menurut Hamdan, anaknya Farid tersebut sudah kuliah di Mesir sejak tahun 2007 lalu.

Yang bersangkutan studi di sana karena mendapatkan bea siswa dari Departemen Agama (kini Kementrian Agama) RI. Sekarang ini, anaknya tinggal menyelesaikan studi semester terakhir. Ujan pertama sudah dilalui bulan Januari 2011 lalu, tes kedua bakal berlangsung bulan November 2011 mendatang.

Sejak konflik di Mesir terjadi, tepatnya tanggal 25 Januari 2011 lalu, pihaknya mengaku terus melakukan kontak kepada anaknya tersebut. Namun, saat itu, telepon selulernya tak dapat dihubungi. “Saat kirim pesan SMS pun, anak saya tidak menjawabnya,” katanya, Kamis (3/2).

Hingga akhirnya, Hamdan mengaku mencoba menghubungi saudaranya, Alwy di Kota Jubel, Mesir. Beruntung, lewat saudaranya ini, diperoleh kabar anaknya sehat dan akan kembali ke Indonesia. Dia pun telah melakukan kontak dengan anaknya. Diakuinya, sempat terjadi kerusakan jaringan telepon di Kairo, Mesir akibat konflik tersebut.

Meskipun sudah mendengar anaknya sehat, Hamdan masih cemas menunggu kedatangan anak bungsunya dari tiga bersaudara tersebut. Ini karena kepulangannya ke Indonesia masih menunggu giliran.

Dari informasi dari anaknya, warga negara Indonesia yang dipulangkan ke tanah air terlebih dulu adalah ibu dan anak. Selanjutnya menyusul pelajar perempuan dan mahasiswi. Setelah itu, giliran pelajar pria dan mahasiswa.

( Royce Wijaya / CN26 / JBSM )

sumber: www.suaramerdeka.com

Belum Serahkan Data Ke KPK,Dirjen Pajak Berdalih Banyak Yang Harus Diserahkan

Jakarta – Permintaan KPK ke Dirjen Pajak mengenai data terkait kasus Gayus Tambunan belum juga dipenuhi. Dirjen Pajak Fuad Rahmany menyebut kelambatan tesrebut karena banyak yang harus disiapkan.

“Teman-teman di pajak harus nyiapain juga. Namanya juga ada 151 perusahaan, untuk satu perusahaan saja tebel,” ujar Fuad kepada wartawan usai bertemu dengan pimpinan KPK, Selasa (1/1/2011) malam.

Di samping itu, lanjut Fuad, untuk menyiapkan data tersebut, Ditjen Pajak terhalang birokrasi yang membuat penyiapan data tidak bisa dilakukan dengan segera. Data-data tersebut juga berasal dari sejumlah kantor wilayah di Ditjen Pajak.

“Itu dikumpulkan dari data Kanwil, jadi memang dalam proses pengumpulan datanya juga sudah lama. Kemudian masalah administratif itu juga harus kita penuhi,” paparnya.

Lalu kenapa Mabes Polri bisa mendapatkannya dengan cetak?

“Kalau Polri kan datang ke sana. Datanya gak persis samalah dengan yang diminta Polri, tapi ya hampir sama,” pungkas Fuad.

KPK yang saat ini tengah berada dalam tahap penyelidikan kasus Gayus Tambunan meminta data 151 perusahaan yang pernah ditangani terdakwa kasus mafia pajak tersebut. Surat permintaan data itu sudah dilayangkan ke Kemenkeu.

Namun sampai saat ini, Kemenkeu khususnya Ditjen Pajak belum juga memberikan data tersebut ke KPK. Untuk diketahui, Mabes Polri sudah lebih dulu meminta data yang kurang lebih sama ke Kementerian Keuangan.

www.detik.com

Crop Circle Muncul Setelah Terdengar Suara Gemuruh

Yogyakarta, CyberNews. Lokasi diketemukannya Crop Circle atau lingkaran taman di hamparan areal persawahan warga di Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta Minggu (23/1) kemarin, saat ini telah dipasangi garis polisi, Senin, (24/1).

Warga setempat beranggapan bahwa, lingkaran yang membentuk suatu pola tertentu atau tanda tersebut adalah jejak pendaratan sebuah pesawat dari planet lain, yakni Unidentified Flying Object (UFO). Menurut warga setempat fenomena itu muncul sebelum hujan turun. Saat itu terdengar suara gemuruh dan angin kencang.

Tidak ada jejak, jika lingkaran itu adalah buatan manusi. Karena, Sabtu (22/1) malam tidak ada orang yang mencurigakan di areal persawahan itu dan keesokan harinya sudah terbentuk. Selain itu, dari potongan tanaman padi ini tidak mungkin kalau disebabkan angin puting beliung.

Pasalnya, areal sawah itu sangat luas hingga mencapai 70 meter dan padi yang rubuh tersebut terlihat sangat rapi. Melihat anehnya lambang bekas pendaratan pesawat “UFO” tersebut, warga langsung melapor ke kepala desa dan ke kepolisian. Langkah yang diambil dari pihak kepolisian langsung memasang garis polisi agar tidak terjadi kerusakan di lokasi tersebut.

Kapolsek Berbah, Kompol I Made Muliawan mengatakan garis tersebut selain itu agar tidak merugikan petani pemilik sawah tersebut. “Lokasi ini agar tidak rusak karena didatangi warga yang ingin melihat dari dekat, dan untuk penyelidikan lebih lanjut serta untuk penelitian dari pihak yang berkepentingan,” katanya, Senin (24/1).

( Yulianto / CN26 / JBSM )

http://m.suaramerdeka.com

Hujan pasir di Klaten, sejumlah warga diperkirakan terjebak

Rabu, 03 November 2010 18:43:03
20101103184303 breaking news Hujan pasir di Klaten, sejumlah warga diperkirakan terjebak

KLATEN: Merapi yang kembali meletus sekitar pukul 15.30 WIB tadi menimbulkan hujan abu yang cukup lebat di wilayah Boyolali dan bahkan hujan pasir di wilayah Kemalang, Klaten. Diperkirakan puluhan warga terjebak di sejumlah desa di Kecamatan Kemalang, Klaten.

Dari pantauan Solopos, Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) ratusan warga memadati Lapangan Keputran, Kemalang, Klaten untuk menyelamatkan diri dari letusan Merapi. Namun mereka tidak selamat dari hujan pasir yang mengguyur mereka.  Namun menurut sejumlah pengungsi, diperkirakan masih ada warga yang belum turun dan terjebak di desa yang tempatnya lebih tinggi.

Atas kondisi ini,  radius zona aman di daerah itu diperpanjang menjadi 10 km dari sebelumnya sepanjang 7 km. Hal tersebut diungkapkan oleh Bupati Klaten, Sunarna.

Di sisi lain, situasi ini tampaknya juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dilaporkan, ada sejumlah orang yang menjarah rumah-rumah penduduk di saat warga panik. mengetahui hal ini sejumlah warga dan petugas kembali naik ke atas untuk mencari pelaku.

Kepanikan warga juga terjadi di kawasan Selo, Boyolali sesaat setelah Merapi meletus. Dilaporkan Merapi memang terus menerus meletus sejak pukul 14.00 WIB dengan interval kurang lebih satu menit. Namun demikian, letusan tersebut tidak bisa terpantau dari tempat tersebut karena pada saat yang bersamaan turun hujan yang cukup lebat.

Namun orang-orang di pos pemantauan langsung panik dan turun setelah mendengar kabar dari radio komunikasi bahwa Merapi meletus. Tidak berapa kemudian setelah meletus hujan abu mengguyur wilayah Boyolali.(Solopos/JIBI)

Sumber:www.harianjogja.com

Debu Ganggu Jarak Pandang di Yogyakarta

YOGYAKARTA – Letusan Gunung Merapi yang terjadi Sabtu (30/10/2010) pagi dini hari tadi meninggalkan abu vulkanik dari hujan abu yang dapat dirasakan hingga di pusat Kota Yogyakarta.

Abu vulkanik tebal terlihat menutupi kawasan Jalan Kaliurang hingga lokasi wisata Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta. Situasi ini menimbulkan minimnya jarak pandang bagi para pengendara serta polusi udara akibat abu vulkanik yang terhempas saat kendaraan melewatinya.

Pantauan dari sejumlah ruas jalan lain seperti Jalan Magelang, Kota Yogyakarta, juga tampak debu vulkanik tebal menyelimuti sebagian besar jalan yang dilalui. Debu-debu tersebut beterbangan ketika ada kendaraan yang melintas di jalan tersebut, sehingga jarak pandang makin terbatas.

Hampir semua kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor, yang melintas menyalakan lampu utama, namun ini juga tidak membantu untuk menambah jarak pandang.

Sejumlah kecelakaan lalu lintas juga terjadi sejak pagi pascaletusan Gunung Merapi akibat jarak pandang yang tidak optimal dan ditambah dengan kepanikan. Dari pantauan KOMPAS.com di lapangan, telah terjadi 3 kali kecelakaan lalu lintas akibat minmnya jarak pandang.

Petugas di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, menyatakan, saat ini ada sekitar 25 pasien yang sedang mendapatkan perawatan, baik akibat sesak nafas maupun luka karena kecelakaan lalu lintas.

Untuk mengantisipasi warga terserang penyakit ISPA, warga terlihat mengenakan masker. Relawan di posko pengungsianpun membagikan masker pada warga korban letusan Gunung Merapi.

Menurut Kepala Desa Hargobinangun, Bejo, letusan merapi yang terjadi dini hari tadi labih besar dari letusan sebelumnya. “Letusan Merapi hari ini lebih besar dari sebelumnya saya mewajibkan warga di wilayah rawan bencana untuk mengungsi”, ujarnya.

Bejo menambahkan, letusan Gunung Merapi mengakibatkan sekitar 2.000 warga di lima dusun yaitu Wonorejo, Tanen, Sidorejo, Ponggol, dan Banteng mengungsi. Petugas SAR hingga pagi hari tadi masih melakukan evakuasi terhadap warga yang masih berada di rumah.

Letusan Gunung Merapi yang terjadi Sabtu (30/10/2010) pagi dini hari tadi meninggalkan abu vulkanik dari hujan abu yang dapat dirasakan hingga di pusat Kota Yogyakarta.

Abu vulkanik tebal terlihat menutupi kawasan Jalan Kaliurang hingga lokasi wisata Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta. Situasi ini menimbulkan minimnya jarak pandang bagi para pengendara serta polusi udara akibat abu vulkanik yang terhempas saat kendaraan melewatinya.

Pantauan dari sejumlah ruas jalan lain seperti Jalan Magelang, Kota Yogyakarta, juga tampak debu vulkanik tebal menyelimuti sebagian besar jalan yang dilalui. Debu-debu tersebut beterbangan ketika ada kendaraan yang melintas di jalan tersebut, sehingga jarak pandang makin terbatas.

Hampir semua kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor, yang melintas menyalakan lampu utama, namun ini juga tidak membantu untuk menambah jarak pandang.

Sejumlah kecelakaan lalu lintas juga terjadi sejak pagi pascaletusan Gunung Merapi akibat jarak pandang yang tidak optimal dan ditambah dengan kepanikan. Dari pantauan KOMPAS.com di lapangan, telah terjadi 3 kali kecelakaan lalu lintas akibat minmnya jarak pandang.

Petugas di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, menyatakan, saat ini ada sekitar 25 pasien yang sedang mendapatkan perawatan, baik akibat sesak nafas maupun luka karena kecelakaan lalu lintas.

Untuk mengantisipasi warga terserang penyakit ISPA, warga terlihat mengenakan masker. Relawan di posko pengungsianpun membagikan masker pada warga korban letusan Gunung Merapi.

Menurut Kepala Desa Hargobinangun, Bejo, letusan merapi yang terjadi dini hari tadi labih besar dari letusan sebelumnya. “Letusan Merapi hari ini lebih besar dari sebelumnya saya mewajibkan warga di wilayah rawan bencana untuk mengungsi”, ujarnya.

Bejo menambahkan, letusan Gunung Merapi mengakibatkan sekitar 2.000 warga di lima dusun yaitu Wonorejo, Tanen, Sidorejo, Ponggol, dan Banteng mengungsi. Petugas SAR hingga pagi hari tadi masih melakukan evakuasi terhadap warga yang masih berada di rumah.

Sumber : www.kompas.com

Korban Awan Panas Dibawa ke Rumah Sakit

Republika

Republika – Rabu, 27 Oktober

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA–Dua korban awan panas Gunung Merapi warga Desa Kinarejo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa malam sudah berada di Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem. Dua wanita yang mengalami luka bakar cukup parah itu, belum diketahui identitasnya. “Tetapi yang satu sudah usia lanjut, sedangkan satunya lagi usianya sekitar 35 tahunan,” kata salah seorang relawan yang keberatan disebut namanya, di Posko Utama Penanggulangan Bencana Gunung Merapi di Pakem, Sleman.

Ia mengatakan, luka bakar yang dialami kedua korban tersebut cukup parah. “Hampir sekujur tubuhnya melepuh karena terkena awan panas,” kata relawan itu.

Menurut dia, sebagian wilayah Desa Kinarejo nyaris luluh lantak diterjang awan panas Merapi. “Belum bisa dipastikan apakah seluruh warga desa itu sudah mengungsi, atau masih ada yang bertahan di rumah masing-masing,” katanya.

Oleh karena itu, tim SAR, tim Tanggap Siaga Bencana (Tagana), dan sejumlah personel TNI mulai naik ke atas, yaitu ke kawasan rawan bencana (KRB) III Merapi untuk melakukan evakuasi warga yang masih bertahan atau belum mengungsi. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono, di Yogyakarta, Selasa malam, mengatakan, Gunung Merapi (2.965 mdpl) sudah masuk ke fase erupsi.

Awan panas dari puncak Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa petang, arah luncurannya belum diketahui pasti, karena petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi tidak bisa melihat akibat gunung tertutup kabut. Informasi dari Posko Utama Penanggulangan Bencana Gunung Merapi di Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyebutkan luncuran awan panas pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB, kedua pada pukul 17.19, ketiga pukul 17.24 WIB, dan keempat pukul 17.34 WIB.

Jarak luncur kedua awan panas itu belum bisa diketahui, karena petugas di sejumlah Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) kesulitan untuk melihat secara visual karena gunung berapi ini tertutup kabut. Petugas Pos PGM Kaliurang Triono mengatakan pihaknya tidak dapat melihat Merapi karena tertutup kabut. “Terima kasih atas informasinya, kami di sini tidak dapat melihat, mungkin benar itu adalah awan panas atau ‘wedus gembel’,” katanya.