2008, Target Syariah Sulit Tercapai
Menjelang akhir 2007, pertumbuhan pangsa aset perbankan syariah baru mencapai 1,72% dari total aset perbankan syariah, atau meleset dari perkiraan Bank Indonesia (BI).
BI sebelumnya mematok pertumbuhan hingga 1,97% pada tahun ini. Sementara di 2008, BI masih memasang target pertumbuhan aset yang ambisius sebesar 5% hingga akhir 2008. Namun, target ini ditanggapi pesimistis oleh pelaku perbankan syariah.“ Saya rasa cukup sulit kalau pertumbuhan aset perbankan syariah hanya mengandalkan pertumbuhan organik, yakni mengandalkan bank syariah yang ada saat ini (existing), tapi harus ditambah dengan pertumbuhan pasar anorganik,”kata Direktur Bank Syariah Mandiri (BSM) Yuslam Fauzi di Jakarta,tadi pagi.
Dia mengatakan, pasar anorganik bisa tercipta dengan upaya BI mendorong munculnya pemain-pemain baru dalam pasar keuangan syariah,baik melalui penambahan jaringan office channeling,kemudian pemisahan usaha (spin off) bankbank yang sudah memiliki unit usaha syariah (UUS) maupun mendorong konversi bank-bank konvensional menjadi unit bisnis syariah. Yuslam menyebutkan,salah satu kendala terbesar pengembangan pasar keuangan syariah di Indonesia adalah minimnya alternatif instrumen investasi syariah yang ada. Akibatnya, perbankan syariah sulit menempatkan dananya pada instrumen berkualitas ketika mengalami likuiditas tinggi. Instrumen surat berharga negara syariah (SBSN) atau sering disebut sukuk hingga hari ini belum juga diterbitkan.
Alasannya, masih dalam pembahasan panjang antara pemerintah, Bank Sentral, dan DPR. “Kalau ada instrumen seperti itu (sukuk),maka bank menjadi lebih berani mencari dana, istilahnya lebih full speed dari sisi funding. Jadi ketika tidak bisa maksimal dalam penyaluran kredit,bank syariah bisa belanjakan ke sukuk,dan uang itu tidak nganggur,”ujarnya.
Yuslam mengatakan, penerbitan instrumen sukuk setidaknya dapat mendorong pertumbuhan perbankan syariah hingga minimal 25% dari pertumbuhan saat ini. Dia menambahkan, sebagai bank syariah dengan aset terbesar, BSM optimistis pertumbuhan pembiayaan tahun ini bakal mencapai 30% atau sebesar Rp9,9 triliun, yaitu 50%-nya disalurkan ke sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sementara tahun depan, BSM menargetkan pembiayaan dapat tumbuh minimal 27% atau mencapai Rp12,5 triliun.
“Tapi yang harus diingat, pertumbuhan pembiayaan tetap harus memenuhi unsur good governance, dan prudentialitas. Dua hal itu tidak dapat ditawar seiring pertumbuhan bank syariah,” ujarnya. Dihubungi terpisah, anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis mengatakan, pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) SBSN dan RUU Perbankan Syariah saat ini tinggal menunggu pandangan fraksi-fraksi DPR dan pengumpulan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM).
“Kalau pandangan umum dari pemerintah sudah selesai, awal Januari tahun depan tinggal penyusunan DIM dari fraksi-fraksi,”katanya,tadi pagi. Harry mengatakan, jika tidak banyak perbedaan dalam DIM yang disampaikan fraksi-fraksi,seharusnya dalam satu kali masa sidang sudah bisa diselesaikan. Dia menegaskan, sebenarnya secara konsep tidak ada masalah pokok dalam penyusunan RUU SBSN, hanya persoalan teknis tentang jenis sukuk yang akan diterbitkan. Harry menjelaskan, lambatnya penerbitan RUU bagi instrumen investasi syariah ini bukan salah dalam pembahasan di DPR, tapi juga reaksi pemerintah yang dinilai lamban mengembangkan pasar syariah di Tanah Air. (kurniana ufik)
sumber: seputar-indonesia.com
Filed Under: Ekonomi
